#melayang {position:fixed;_position:absolute;bottom:30px; left:0px;clip:inherit;_top:expression(document.documentElement.scrollTop+document.documentElement.clientHeight-this.clientHeight); _left:expression(document.documentElement.scrollLeft+ document.documentElement.clientWidth - offsetWidth); }

Minggu, 10 Februari 2013

hikmah


DASAR & AXIOMA TASHAWWUF
At-asawwuf , sering sekali kita mendengar kata tersebut, atau mungkin kita adalah salah satu diantara orang-orang yang memang sudah menyelam kedalam lautan ilmu tersebut. Namun yang jadi pertanyaan, apakah kita tahu apa itu Tasawwuf, kemana arah tujuannya, dan bagaimana kita berada di dalamnya? tak mungkin kita bisa berjalan kalau kita tak tahu jalan, dan sebuah bangunan akan terbangun dengan wujudnya rangkaian pondasi. Begitu juga ilmu .
Nah,mari sekarang bersama-sama kita ketahui dasar-dasar ilmu tasawwuf, agar miniatur dan seketsa yang telah terancang dapat wujud dengan sempurna, tidak setengah apalagi nol.
Adapun dasar-dasar tsb adalah :
01. Had/Definisi Tasawwuf
Adalah ilmu yang berguna untuk mendeteksi pola kerja jiwa dan sifat-sifat yang mensifati jiwa
02. Materi Tasawwuf     
Adalah pembahasan tentang kinerja dan sifat-sifat esisentif jiwa   
03. Natijah/faidah Tasawwuf
Adalah mendapat dan memperoleh hati yang bersih / steril / dan selamat dari mengagungkan selain Allah, dan
wujudnya hati yang terhias oleh Musyahadah al Malik al Ghoffar.
 04. Hukum Mempelajari Tasawwuf
Adalah Fardlu ‘Ain bagi setiap individu yang mukallaf, hal ini di karenakan , sebagaimana wajibnya mempelajari  ilmu yang menata dzohir, begitu pula ilmu bathin.
05. Keistimewaan Tasawwuf
Adalah keunggulannya diatas ilmu yang lain, di lihat dari sisi faedah dan kegunaan ilmu tersebut.
06. Keberadaan Tasawwuf
Adalah asal dari segala ilmu, dan yang lainnya merupakan cabang . Orentasi ilmu Tasawwuf  terhadap batin adalah sama dengan orientasi ilmu Fiqih terhadap dzohir.
07. Pencetus Tasawwuf
Adalah para Imam-imam yang makrifat bil-Allah SWT.Yang tidak perlu di pertanya dan ragukan kabilitasnya sebagai seorang imam.
08. Referensi Tasawwuf
            Adalah diambil dari tiga sumber :Kalamullah SWT., Kalamu al-Rosulillah SAW.,dan Qoul-qoul Ulama’ Zawil yaqin wa al ‘Irfan.
09. Problematika Tasawwuf
            Adalah qodiyah-qodiyah ilmu tersebut yang mengupas esisensial zatiy, seperti Fana’, Baqo’ dan yang lain.
10. Nama Tasawwuf
            Ilmu Tasawwuf, adalah berasal dari kata ashofa Yang berarti bening dan suci.
Itu tadi hanyalah berupa dasar, asas dan axio-ma , namun tanpanya tak akan wujud satu gedung atau bangunan yang kita idamkan.                      
Walau begitu, ada sesuatu yang lebih penting  yaitu , dasarnya dasar atau bisa kita bahasakan  dengan ; Mahal al-Bina’  [ Tempat berdirinya axioma bangunan].
Karena, tanpa mengetahui tempat yang akan kita tanami sebuah bangunan , sekuat apapun pondasinya, pasti akan sia-sia, bila ternyata tanah yang anda bangun adalah tanah gambut atau bumi hidup.                     
Begitu juga kita dan perjalanan yang sedang    kita lakukan, setelah kita mengetahui apa, siapa, dan   bagaimana diri kita, barulah pantas dan bisa kita mencoba membuat sebuah pondasi kokoh tasawwuf kita, agar gempa, banjir,dan topan yang sewaktu-waktu siap menghantam, tidak bisa merusak dan merobohkannya.          
Setelah selesai dengan asas atau axioma, selanjutnya adalah Bangunan nya. Apalah gunanya sebuah pondasi yang kokoh, besar dan tegap bila ternyata tak ada bangunan yang menancap di atasnya, atau mungkin ada, namun hanya gubuk reot yang siap gugur jatuh kebumi.Tidak perlu koar sana dan sini, karena semua tak akan wujud tanpa pelaksanaan amaliyah kita.                 
Bangunan akan terlihat indah bila di kelilingi   bunga atau tanaman yang menyejukkan mata, begipula kita, dasar dan rumah tasawwuf kita akan begitu indah dan sejuk bila yang keluar dari diri kita  adalah sesuatu yang baik dan tidak merugikan orang  lain, bila kita bisa , alangkah bahagia dan senang orang – orang di sekeliling kita.
Namun, mengapa kadang kita masih di cerca  atau mungkin mencerca. Agar lepas dari kedua hal tersebut, yang harus kita fahami bersama adalah, hubungan yang mengikat antara Syari’at dan Hakikat, bila     yang dalam diri kita adalah ke- Faham- an tentu hal    tersebut tidak perlu terjadi.
Untuk mensinkronkan hal ini, cukuplah kiranya dengan kata dan qoul Alim ;Al Haqiqah bila  Syari’ah Zindiq wa al Syari’ah bila Haqiqoh Mu’a tthil ,[ haqikat yang tak bersyariah akan membuat   kita  zindik, Syari’ah yang tak berhaqikat akan mem buat kita kosong/hambar ].
Sebenarnya tidaklah sulit , bila dalam melihat dan memandang kita menggunakan pandangan yang   luas yang didasari ilmu, bukan pandangan sempit dan picik yang dasarnya hanyalah sebuah nafsu ; Ingin.Sekarang, terletak dimanakah kita?Apakah kita termasuk orang yang mencerca atau yang tercerca atau mungkin keduanya, semua jawab kembali pada diri kita.                            
 Inilah sebuah kenyataan, ketika ada yang tak  pas atau sesuai dengan kita, rasanya ingin sekali kita   segera menampik dan membuangnya jauh-jauh. namun, sebelum kita menganggap salah atau benar  tentang sesuatu, yang harus kita lakukan adalah mengetahui tentang latar belakang , kandungan, inti sari dan akibat atau efek yang ditimbulkan dari mempelajari/mendalami hal tsb.agar kita tidak tergolong kritikus terkritik atau pemanah yang picik dan buta..                                                                                                                      

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar