#melayang {position:fixed;_position:absolute;bottom:30px; left:0px;clip:inherit;_top:expression(document.documentElement.scrollTop+document.documentElement.clientHeight-this.clientHeight); _left:expression(document.documentElement.scrollLeft+ document.documentElement.clientWidth - offsetWidth); }

Minggu, 10 Februari 2013

hikmah....


AHLIL FATHRAH & ORANG TUA RASULILLAH SAW.
Al Naaji atau al Syaqi?...
Wah..., ini adalah pertanyaan yang suker dan gawat, neng sangat penting untuk dimengerti serta dijawab dengan cepat, tepat dan argumentatif.  Kenapa?..., karena akhir-akhir ini banyak sekali yang memberikan klaim serta rumusan yang menjerumuskan perihal status orang tua Rasul saw., mereka menyatakan bahwa ayah dan ibunda beliau adalah minal kaafirin dan berada di neraka, na’udzu billah.
Maka, dalam kesempatan ini, akan penulis sampaikan al haq yang sesuai dengan manhaj;metodologi ahli sunnah wal jama’ah secara singkat tapi gamblang.
A.      Ahlil Fathrah, Siapa dan Bagaimana Setelah Mereka Meninggal?...
Ahlil fathrah adalah orang hidup di antara zaman para Rusul atau di zaman para Rusul namun tidak diutus untuk kaum mereka (ahlil fathrah). Orang-orang seperti mereka ini termasuk al naaji;selamat/beruntung sekalipun mereka adalah penyembah berhala. Allah swt. berfirman
  
dan kami tidak akan meng'azab sebelum kami mengutus seorang rasul.

Nah... dari sini dapat kita ketahui bahwa kedua orang tua Rasul saw. adalah termasuk ahlil fathrah dan orang yang beruntung (al naaji), karena keduanya tidak menemui bi’tsaturrusul (teruteusnya para utusan), bahkan menurut keterangan yang ada di kitab; al Qaul al Lathif, al Qaul al Fashl dan Tiijan al Durari yang menyunting qaul milik imam al Suyuthi, dikatakan bahwa kedua orang tua Rasulillah saw. itu suci dari najis syirik.

B.      Dalil Bahwa Orang Tua Rasulillah saw. Tidak Termasuk Musyrikin
Dalil ini di angkat dari dua sisi;
1.      Perlu dimengerti bahwa semua yang masuk dalam nasab ayah dan ibu Rasul saw. tidak ada yang  berstatus kafir.
Dalam masalah ini, imam al Suyuthi mengambil dalil dari hadits;
لم أزل أنقل من أصلاب الطاهرين إلى أرحام الطاهرات
Padahal Allah swt berfirman;

28.  Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.
Jadi, tidak mungkin/muhal adanya bila sampek orang tua Rasul saw. kafir.
Selain itu, dalam kitab al Qaul al Fashl dijelaskan bahwa semisal ayat;
 
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait[1217] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
Itu berfaedah dzon bahwa orang tua Rosul saw. suci dari najis kekufuran.
Sebagian ulama’ mengambil dalil tentang hal ini dari ayat;



219.  Dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.
Dengan arti –sebagimana yang disampaikan oleh al Hafidz Samsuddin al Dimasqi- Nur Muhammad saw. itu berpindah dari orang-orang ahli sujud (tidak kafir).

2.       Allah menghidupkan orang tua Rasul saw. dan mengimankannya.
Hal ini berpijak pada hadits yang diriwayatkan oleh imam al Khothib dan al Suhaili dari ‘Aisah ra.;
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سأل ربه أن يحيي له أبويه فأحياهما فآمنا ثم أماتهما
Dan hadits semacam ini juga diriwayatkan oleh al Thabaroni.

ولوالديـه الرب قد أحياهما    قد جاء هذا فى الحديث وأيدا
قد آمــنا حقا به فاسـتوجبا     كــــل النجاة وبالجـنان تخلدا
C.      Bila benar orang tua Rasul tidak Musyrik, maka bagaimana dengan hadits berikut;
إن أبي وأباك فى النار : رواه مسلم
إنه استأذن ربه فى أن يستغفر لأمه فلم يأذن له....
Begini mas... dua hadits di atas dan hadits yang menjelaskan disiksanya ahlil fatrah adalah hadits ahad yang tidak bisa dibenturkan dengan dalil qoth’i, lain dari pada itu masih dimungkinkan untuk menyatukan hadits yang kayaknya terlihat kontras, dengan mengarahkan;
·         Hadits; إن أبي وأباك فى النار  ;   نار التحسرkarena untuk melegakan hati orang yang bertanya dan meredam emosinya/ yang dimaksud dengan اب   adalah عم seperti kebiasaan orang arab.
·         Adapun Hadits; إنه استأذن ربه فى أن يستغفر لأمه فلم يأذن له ; itu tidak 100 % pasti (qoth’i) menunjukkan bahwa istighfar nabi saw. adalah permohonan ampun dari dosa syirik.

Nah..., dari uraian di atas kiranya sangat gamblang dan jelas bahwa ayah dan ibunda Rasul saw. adalah al naaji (orang yang beruntung), bukan al syaqi (orang yang celaka) sebagaimana yang dituduhkan orang-orang bodoh yang tersesat dan tak mengerti  akan sejarah dan dasar-dasar  agama.
Sebagai penutup dan bukti tentang pembahasan ini, akan kami publikasikan sebuah atsar yang disampaikan oleh al Syaikh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’, yaitu; emosi yang sangat kholifah Umar bib Abdl Aziz sewaktu beliau mendengar  sekretaris berkata; كان أبو النبي كافر
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar