#melayang {position:fixed;_position:absolute;bottom:30px; left:0px;clip:inherit;_top:expression(document.documentElement.scrollTop+document.documentElement.clientHeight-this.clientHeight); _left:expression(document.documentElement.scrollLeft+ document.documentElement.clientWidth - offsetWidth); }
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Januari 2013

DISIPLIN

ILMU HIKMAH
Ilmu hikmah ialah ilmu kema'rifatan atau lebih dikenal dengan ilmu tashawwuf sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli sufi, yang tentu diawali dengan pendalaman yang memerlukan waktu yang sangat panjang.
ada tingkatanya masimg-masing, pertama diawali dengan pendalaman tauhid, syari'at, yang tentunya melalui proses ilmiah yang sangat panjang, dan ini mungkin dilakukan bagi mereke yang mau menekuni dunia dan metode pendidikan yang benar.
tentunya potensi untuk menjadi seorang wali di era ini sangat besar, karna banyaknya anak dibawah umur yang sudah bisa baca al-Qu'an bahkan kitab kuning sebagaimana metode penerapan belajar yang cepat, separti dirosati untuk usia balita antara 3th sampai bisa dengan cepat membaca, amtsilati sebagai metode cepat membaca kitab kuning ini diajarkan apabila anak didik telah mahir baca al-Qur'an sepaerti anak yang telah lulus TPQ.
mengapa potensi itu tidak dapat bahkan sulit terealisasi...?
penyebabnya adalah jauhnya sikap hati dan kesungguhan diri dalam upaya mendekatkan diri kepada tuhan, berbeda dengan zaman para wali songo di indonesia.
walaupun banyak dari umat di indonesia hususnya tanah dwipa ini yang hampir keseluruhan tidak bisa baca tulis pada waktu itu dan ini masuk akal karna lebih pada persoalan mereka baru tersentuh sinar keislaman, akan tetapi upaya kesungguhan hati serta dorongan keinginan yang kuat mereka mampu menginjak derajat yang tinggi seperti Muttaqin.
cobaannya pun lebih ringan dari pada zaman sekarang serta kaumnya pun sudah tidak separti era ini.
mengapa potensi sekarang lebih besar ?
karna ilmu lahiriahnya lebih banyak dikuasai anak-anak zaman sekarang akan tetapi semua hanya berkutat pada hal yang bersifat Nafsu belaka.
maka dari itu tujuan mempelajari syari,at ialah untuk menorehkan prestasi ibadah yang benar.
maka dari itu agar tidak seperti syeh Husein bin Mansur Al-khallajj yang secara hakikat benar akan tetapi tidak secara syari'at.RA
karna rosulullah SAW bersabda :
نحن نحكم بالظواهر/ بالظاهر
dan ini juga pernah disampaikan oleh Sayyidina Umar RA.
Para tokoh sufi banyak mencontohkan prilaku yang agung dan sangat bisa dikaji dan diterima secara mudah sesuai dengan disiplin keilmuan islam dalam rentetan stratanya.
karna wali ialah seseorang yang prilakunya selalu bernilai ibadah.
itupun puncak perjalanan para wali masih awal perjanan nabi, sedang nabi mencontohkanya dengan sederhana, yakni ilmu dan amal, serta mentahkiqkan ( menyatakan / membuktikan ) amaliah keilmuanya lahir dan batin.
Syeh Sahal bin 'Abdillah Attustary ( Lahir tahun200 H / 815 M - Wafat 283 H / 890 M berkata:
الولي هوالدي ثوالث افعاله عىلي الموافقة

 kembali pada konteks ini, ilmu Hikmah yang dikenal sebagai ilmu tasawwuf ialah ilmu manfaat.
apa sih ilmu manfaat...?
  1. ilmu manfaat menurut Shofyan Ats-Tsaury ialah ilmu yang digunakan untuk bertakwa kepada allah SWT.
  2. versi Imam Malik; ilmu untuk mendekatkan diri kepada allah SWT.
  3. iversi Imam Ibn 'Athoillah As-Sakandary : ilmu yang disertai rasa takut kepada allah SWT.
  4. versi Ta'laimul Muta'allim ; ilmu yang dapat memperbaiki Dzikir dengan baik.
  5. versi  Syeh Zaed Abdul khamid pengasuh PONPES Mahir Arriyadl ; ilmu yang mempercepat wushul kepada allah SWT.
betapa indah bila seseorang dapat merengkuh derajat Ba'dul Auliya' yang penuh aral rintangan yang siap menghadang.
semoga kita dapat berjalan sesuai yang di ajarkan para ulama sebagai pewaris para nabi.
ami...amin...amin....

Rabu, 23 Januari 2013

TAFAKKUR

Anak-anak sekalian, jujurlah padaku. Lepaskanlah sebagian hartamu yang ada di rumahmu. Aku tidak punya keinginan sedikitpun kecuali kejujuran dan keikhlasanmu, bukan untukku, tetapi demi untukmu. Peganglah dengan kuat ucapanmu, lahir dan batin, karena ada malaikat yang selalu mengawasi lahiriyahmu, sedangkan Allah Azza wa-Jalla yang mengawasi batinmu.
Hai orang yang membangun istana dan apartemen, yang umurnya hilang dalam pembangunan dunia, yang tidak menegakkan bangunan dengan niat yang shaleh. Padahal membangun dunia itu fondasinya adalah niat yang saleh, bukan membangun dengan fondasi  nafsu dan kesenanganmu. Hanya orang bodoh yang membangun dengan nafsu dan kesenangan, watak dan tradisinya tanpa disertai aturan yang jelas dan keselarasan dengan ketentuan Allah azza wa-Jalla dan tindakanNya.
Ia membangun tidak disertai keserasian yang benar dan tidak dipersiapkan untuk apa ia membangunnya, lalu orang lain yang menempatinya. Kemudian di hari kiamat ia ditanya, “Untuk apa kamu membangun? Darimana uang kamu dapatkan? Untuk apa uang itu kamu salurkan? Semua dihisab. Karena itu carilah ridhoNya dan carilah keserasian dengan kehendakNya. Terimalah apa yang telah dibagikan padamu, dan jangan berburu yang bukan bagianmu. Nabi Saw, bersabda:
“Siksa Allah Azza wa-Jalla paling pedih pada hambaNya di dunia adalah perburuannya pada bagian yang bukan bagiannya.”
Datanglah kepadaku, dan apa yang ada padamu dengan baik sangka padaku, sungguh kalian akan bahagia dengan ucapanku.
Celakalah, kamu mengakui sebagai muslim, sementara kamu menentang Allah azza wa-Jalaa, kontra pada hamba-hambaNya yang saleh. Kamu dusta dengan pengakuan itu. Islam itu bersumber dari kata Istislam, yang berarti menyerahkan diri pada ketentuan Allah Azza wa-Jalla, pada takdirNya, serta rela dengan tindakanNya disertai pijakan pada Kitab dan Sunnah RasulNya Saw. Jika anda bisa demikian, benarlah Islam anda.
Akibat negatif dari angan-angan panjangmu, membuatmu banyak terlibat maksiat kepada Allah azza wa-Jalaa, kontra padaNya. Sebaliknya bila anda membatasi angan-angan anda, kebaikan bakal tiba dengan sendirinya. Maka peganglah kebaikan itu bila anda ingin bahagia.
Apa pun yang datang padanya, ia raih dengan tangannya, dan ia ridho, disertai keserasian syari’at, dan kerelaan padaNya, tidak kerena kerelaan nafsu atau watak diri, tidak pula karena kerelaan syetan, sungguh, maksudnya  Allah Azza wa-Jalla telah menentukan takdir pada mereka. Bukan berarti mereka tiada, dari berbagai segi mana pun, karena kita semua tidaklah ma’shum setelah usainya periode Kenabian –semoga sholawat salam pada mereka-. Jiwanya tenteram, hawa nafsunya dikalahkan, pengaruh wataknya padam, syetannya terpenjara. Apa yang ada di tangannya dariNya tidak pernah berputar, tidak pernah berserah atau mandeg pada sebab akibat, karena tauhid itu bukannya memandang bahaya dan manfaat datang dari seseorang.
Padahal dirimu itu semuanya nafsu, semuanya penuh selera kesenangan, semuanya berdasar kebiasaan diri, tak ada sedikitpun tawakal. Sedangkan bertauhid kepada Allah Swt, awalnya adalah kabar pahit, kemudian berubah manis, lalu remuk redam, kemudian keterpaksaan, selanjutnya mati, baru kehidupan yang abadi.
Hinakan dirimu, baru raih kemuliaan. Fakirlah, baru kaya raya. Awalnya tiada lalu ada bersamaNya, bukan bersama dirimu. Jika dirimu sabar, maka benarlah apa yang anda kehendaki berserah dengan Allah Azza wa-Jalla, jika tidak, maka anda tidak meraih yang benar.
Segala hal yang membuat mu sibuk jauh dari Allah Azza wa-Jalla pasti tercela bagimu, walaupun anda telah melakukan sholat dan puasa, setelah anda melaksanakan hal-hal yang fardhu dan sunnah. Bila anda melaksanakan kewajiban  puasa, kemudian setelah itu anda lapar dan dahaga ketika melaksanakan puasa sunnah, namun hati anda tidak hadir di hadapan Allah Azza-wa-Jalla, tidak bisa muroqobah padaNya, tidak hidup bersamaNya, dekat padaNya, sungguh anda menjadi hamba yang terhijab, hambanya makhluk, dan hamba hawa nafsu.
Orang arif biLlah itu senantiasa tegak di hadapanNya di bawah panji-panji taqarrub padaNya, melalui ilmu dan batinnya, pada saat yang sama ia menjalankan ketentuan dan takdirNya. Karena itu ia tak berdaya dalam peran, dirinya tanpa peran, ia bergerak tanpa gerak dari dirinya, ia diam tanpa diam dari dirinya, dan ia tergolong pada firmanNya Azza wa-Jalla:
“Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi 18)

Ketika sifat tak berdaya muncul, mereka bergerak dengan kemampuan, sementara ketika tak berdaya mereka diam dan pasrah. Gerak itu ketika wujudmu ada, dan diam itu ketika wujudmu tiada. Gerak dalam aturan hukum dan diam dalam ilmu. Sesungguhnya diri anda baru benar jika anda keluar dari diri anda sendiri, keluar dari nafsu, kesenangan, karakter dan perilaku secara total. Janganlah anda bergelayut dengan makhluk yang sesungguhnya tidak memiliki bahaya dan manfaat bagimu, begitu pula rizkimu. Kecuali bergelayut kepada Allah azza wa-Jalla.
Selamanya anda harus menjalankan perintah dan menghindari laranganNya. Tak ada yang tersisa di tanganmu, kecuali Allah azza wa-Jalla, sehingga anda menjadi manusia paling kaya dan pling mulia, seperti Adam as, segala sesuatu bersujud padanya. Ini semua tersembunyi dari umumnya akal makhluk, dan banyak diantaranya kaum khusus (khawash) yang merupakan nukleus dari Adam as dan tergolong meraih lubuk jiwanya.
Hai orang yang  sangat sedikit memanfaatkan pengetahuan, lihatlah mereka ini semula konsentrasi belajar pada kaum Sufi, kemudian mereka hatinya uzlah dari makhluk, walau lahiriyahnya berinteraksi untuk membangun dan mendidik sesama, namun batinnya bersama Allah azza wa-Jalla, senantiasa berbakti dan bersamaNya. Mereka eksis di tengah makhluk secara syariat, tetapi batin mereka menghindar dari makhluk, bahkan menghindar dari segalanya.
Secara lahiriyah mereka sibuk dengan aturan hukum, ketika pakaian mereka kotor, mereka cuci, mereka perbaiki pakaian itu, mereka beri parfum wewangian. Ketika robek mereka jahit. Mereka inilah pemuka-pemuka makhluk, laksana gunung-gunung yang kokoh, sedangkan hatinya senantiasa bersama Allah Azza wa-Jalla, lunglai di hadapanNya, senantiasa muroqobah padaNya dan tenggelam dalam pengetahuanNya.
Ya Allah jadikanlah dzikir kepadaMu sebagai konsumsi kami, dan berikanlah rasa puas kami dengan mendekat kepadaMu. Amin.

Sedangkan hati anda, mati.kawan-kawan anda adalah oerang-orang yang hatinya mati. Seharusnya anda bergaul dengan orang yang hatinya hidup, para kekasihNya yang Nujaba’,  dan kaum abdal.  Anda adalah kuburan yang mendatangimkuburan. Mayat yang mendatangi mayat. Masa anda adalah zaman yang menmggiring anda seperti zaman anda. Orang buta yang menuntun orang buta seperti anda. Karena itu bergaullah dengan orang yang beriman, yang yaqin dan saleh. Bersabarlah dengan ucapan-ucapan mereka, terima dan amalkan, maka anda akan bahagia.
Terimalah ucapan-ucapan para Syeikh, amalkan dan hormati mereka jika anda ingin bahagia. Aku punya seorang Syeikh, apabila ada problema dalam diriku, dan ungkapan dalam hatiku, aku tidak
ingin mengutarakan padanya, semata karena rasa hormatku padanya, dan adab yang baik yang harus kulakukan. Aku tak pernah berguru dengan seorang Syeikh, kecuali aku sangat hormat padanya dengan adab yang bagus.
Seorang Sufi tidak pernah pelit, karena memang tidak ada yang tersisa pada dirinya, karena segalanya sudah ia tinggalkan. Jika ia diberi sesuatu, maka sesuatu itu diberikan lagi pada orang lain, bukan untuk dirinya. Hatinya sudah bersih dari materi yang ada dan fenomena gambaran yang ada. Orang pelit itu adalah orang yang menyimpan hartanya. Sedangkan para Sufi hartanya untuk orang lain. Bagaimana  ia akan pelit dengan harta milik orang lain? Sedangkan ia tidak membenci dan menyenangi harta itu, tidak pula berpaling pada harta tersebut, bahkan tidak butuh pujian, tidak peduli cacian, tidak memandang pemberian, pencegahan, bahaya dan manfaat,  dari selain Allah azza wa-Jalla.
Mereka ini tidak gembira dengan kehidupan, juga tidak gelisah dengan kematian. Yang dinilai sebagai kematian manakala ia mendapatkan amarah Tuhannya, dan yang disebut kehidupan adalah ridhoNya itu sendiri. Kecemasannya ketika dalam kesibukan ramai, dan kebahagaiannya ketika dalam kesendirian. Konsumsi makannya adalah dzikir kepada Tuhannya Azza wa-Jalla, dan minumannya bersumber dari kemesraan denganNya. Bagaimana mereka disebut pelit dengan benteng dunia dan seisinya, sedangkan mereka tidak butuh semua itu?
Ya Tuhan kami, berikanlah kami di dunia kebajikan, dan di akhirat kebajikan (pula), dan lindungi kami dari ‘azab neraka.
by : Rooney El-Battaty <br> @muhammad ilham mabrur

Selasa, 22 Januari 2013

Yakin

keyakinan tumbuh karna keimanan yang kukuh.
sehingga baginda nabi SAW bersabda " sabar ialah separo bagian dari iman sedangkan yakin ialah keimanan yang utuh.
mengaoa begitu....?
karna kesabaran yang hakiki ialah kesabaran yang disertai dengan keimanan yang utuh, betapa tidak!
karna letak keimanan seseorang bukan hanya terletak pada kesabaran yang tampak, akan tetapai keimanan yang yang tampak dalam mata batin seorang mukmin pastilah menyertakan unsur kesabaran yang tanpa batas.
dan itu semua akan bisa kukuh secara keseluruhan apabila keyakinan sebagai pondasinya telah tertancap di hati sanubari para mukmin sejati sehingga mampu merasuk menembus dinding jiwa sebagai memori lubuk hati yang paling dalam.
dengan satu sandaran yang dapat membuahkan satu buah pemikiran ( Natijah ) bahwa " sabar tak ada batasnya, karna surga tak berbatas "
barang siapa yang membatasi sabar maka ia telah membatasi amalnya sebagai kebanggaan yang disangkanya dapat mengantarkanya kepintu surga kelak.
dan batas kesabaran ada pada ruangan sebelum menginjak pintu surga, yakni neraka.

management surga

berjalan ku mengarungi samudra keindahan,
merajut satu asa tertumpu pada sosok surgawi penghuni dunia pancarnya.
ijab kabul adalah satu rentetan proses pinangan seorang jejaka.
berjalan kekamar membentuk proses keindahan idaman para surgawan.
secawan air kenikmatan tumpah dalam lumbung pembentukan generasi bangsa.
membentuk cinta dirajut sayang.
akal nafsu duniawi terbakar lumpuh oleh hati surgawi penuh kasih.
kedewasaan merintis budi yang kian hari silih berganti dengan badai balak uji.
ilmu yang melaut merendam gelora nafsu insani.
mengalahkan kekuatan syaitan perayu nafsu.
insan bahagia oleh karena sayangnya pada kekasih, serta cintanya kepada ilahi.
karna ilmu mampu mengalahkan nafsu yang enggan tertunduk malu.
barjalan sabar tanpa batas.
karna surga tak berbatas.