#melayang {position:fixed;_position:absolute;bottom:30px; left:0px;clip:inherit;_top:expression(document.documentElement.scrollTop+document.documentElement.clientHeight-this.clientHeight); _left:expression(document.documentElement.scrollLeft+ document.documentElement.clientWidth - offsetWidth); }

Kamis, 31 Januari 2013

CERITA

CARA HABIB SYECH BIN ABDUL QADIR ASSEGAF MEMBELA NABI SAW

Ada yang luput dari perhatian media massa soal pembelaan terhadap Nabi
Muhammad. Yang umum dapat perhatian dari media massa adalah demo, barisan manusia yang bergerak,
mengacungkan pamflet dan teriakan yang hingar-bingar. Mungkin ini yang
menjadi selera media sehingga dianggap sebagai laporan utamanya. Sementara
di seberang sana, lautan manusia yang konsisten (istiqamah) memuji dan
bershalawat kepada Nabi Muhammad justeru luput dari mata media. Pun mereka
bershalawat memang tidak untuk "nampang". Bahkan liputan dianggap
mengganggu keikhlasan bershalawat. Cara ini yang ditempuh Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf yang biasa disebut Habib Syech.

Majelis Shalawat Habib Syech adalah fenomena saat ini. Kalau dalam istilah
dan pujian orang-orang tua, beliau dianugrahi "suara Nabi Dawud". Konon
kalau Nabi Dawud mendaras pujian pada Tuhan, semilir angin berhenti,
ranting bergeming, burung-burung menyimak tak berkicau. Suara Habib Syech
menyihir pendengarnya, mengikuti bacaan shalawat yang dilantunkan yang
semuanya sudah dihafal. Jemaah dan santri Habib Syech membentuk Syecher
Mania Club (SMC), jejaring fans club anak-anak muda yang maniak shalawat.

Suara Habib Syech empuk dan merdu, dengan ciri khas cengkok yang aduhai
membuat pendengarnya menggigil bak tersengat demam rindu yang membara.

Shalawat dibaca bukan hanya karena dianggap kewajiban agama dalam bacaan
shalat, juga berguna untuk menawar penyakit hati, meneguhkan iman dan
menguatkan keramahan. Shalawat identik dengan damai dan perdamaian. Di
Mesir sering melihat kalau ada dua orang bertikai di jalanan, akibat
benturan tidak sengaja, orang yang berpapasan akan menghampiri mereka yang
bertikai itu dan berseru shalluu alaN Nabi (bershalawatlah pada Nabi).
Shalawat adalah penawar kemarahan dan kebencian. Yang bertengkar pun
buru-buru mengucapkan shalawat, mulai sadar diri, dan mereka berdamai yang
tak jarang diakhiri dengan pelukan.

Bacaan shalawat memang mengandung keintiman dan kemesraan dengan Nabi. Para
penganggit shalawat dan pembacanya memandang Nabi Muhammad sebagai kekasih
dan pujaan yang membuat mabuk dan tergila-gila. Majelis Habib Syech pun
bernama Ahbab al-Musthafa yang artinya “Para Pencinta Nabi Muhammad”.

Habib Syech melantukan pelbagai shalawat yang rata-rata sudah dihafal oleh
masyarakat pencinta shawalat. Misalnya Shalawat Badar yang terkenal di
kalangan NU yang disusun Kiai Ali Manshur dari Banyuwangi. Kutipan dari
Qasidah Burdah yang dianyam al-Bushiri sebagai hadiah kepada Rasulullah
karena ia sembuh dari sakitnya setelah didatangi oleh Nabi Muhammad.
Shalawat-shalawat lain yang dibaca dipetik dari al-Barzanji, al-Dibâ’î, dan
lain-lainnya. Termasuk kidung-kidung berbahasa Jawa yang berisi ajakan
menyambut panggilan moral agama yang luhur, mengabdi pada Allah dan
Rasul-nya dan berbuat baik terhadap sesama. Dalam kidung ini juga
mengandung sindiran-sindiran halus bagi mereka yang lupa diri.
Bacaan yang juga masyhur dari Habib Syech adalah “Syi’ir Tanpo Waton” yang
dikenal “Shalawat Gus Dur”.

Siapa pun yang hadir dalam majelis Habib Syech akan merasakan limpahan
energi yang positif. Mendengarkan lantunan shawalat-shawalat yang
dibawakannya menyegarkan rasa dan fikiran. Suara merdu Habib Syech melekat
dalam ingatan yang membedakannya dari tokoh agama yang posternya hanya
menancap di baleho-baleho pinggir jalan. Bagai deru ombak dan angin di
lautan yang luas, alunan shalawat tak menghiraukan dan mampu meredam
kesumbangan suara terhadap Rasulullah. Hinaan itu seperti teriakan orang
yang mencoba cari perhatian di pantai, tak terdengar sama sekali.

Nabi Muhammad yang dipercaya sebagai Rasul Allah oleh lebih 1.6 milyar
orang di dunia, yang mayoritas membaca syahadat kerasulan Muhammad dan
shalawat padanya lima waktu sehari semestinya mampu meredam dan tak hirau
dengan cemoohan yang datang dari satu, dua orang pelaku yang bodoh.

Gerakan shalawat yang dibawakan oleh Habib Syech dan majelis-majelis
shalawat lainnya adalah lautan yang menunjukkan keagungan, kemuliaan, dan
cinta pada Nabi Muhammad yang tak bisa mudah berubah, meskipun ada orang
yang mencoba-coba misalnya meludah ke dalam lautan.

Cahaya ajaran Rasulullah pun tak kan bisa dihalang-halangi, karena kekuatan
cahaya itu, seperti dalam syi’ir sholawat,
Anta Syamsun, Anta Badrun, Anta Nurun Fauqo Nurin.....
Engkau matahari, Engkau bulan purnama, Engkau cahaya di atas cahaya.....

Nabi putra Abdullah..... Nabiyullah Muhammad
Nabi kekasih Allah..... Nabiyullah Muhammad
Manusia yang kucinta..... Nabiyullah Muhammad
Manusia yang kupuja..... Nabiyullah Muhammad
Manusia idolaku..... Nabiyullah Muhammad
Manusia pujaanku..... Nabiyullah Muhammad
Nabi penuntun ummat..... Nabiyullah Muhammad
Nabi pemberi syafa'at..... Nabiyullah Muhammad
Pemimpin di dunia..... Nabiyullah Muhammad
Pemimpin di akherat..... Nabiyullah Muhammad
Kuharap dapat mimpi..... Nabiyullah Muhammad
Kuharap syafa'atmu..... Nabiyullah Muhammad

Ya Robbi Bil-Mushthofaa Balligh Maqoosidanaa,
Waghfirlanaa Ma Madloo Yaa Waasi’al-Karoomi..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar