#melayang {position:fixed;_position:absolute;bottom:30px; left:0px;clip:inherit;_top:expression(document.documentElement.scrollTop+document.documentElement.clientHeight-this.clientHeight); _left:expression(document.documentElement.scrollLeft+ document.documentElement.clientWidth - offsetWidth); }

Sabtu, 26 Januari 2013

Siklius kehalifahan / kepemimpinan bangsa serignkli menyulut gelora api persaingan yang ketat yang sangt dampak pada emosional anak bangsa ini.
ini adalah efek dari politik kekuasaan yang meraja lela dengan berbagai trik yang mematikan satu pergerakan laju persaingan kandidat-kandidatnya.
korang kondusifnya suasana bangsa ini sering menimbulkan perpecahan diantara beberapa pihak-pihak tertentu.
sehingga permasalahan ini merembet dalam wadah persepak bolaan kita yang pecah tumpah darah oleh semua agenda politik yang menyita banyak waktu penting dalam hidup ini.
karna semua wadah telah terhiasi oleh dunia perpolitikan, sedangkan bangsa ini belum siap untuk hidup dewasa bernegara dan bertanah air dengan dasar lupa akan pancasila tanpa pada 7 abad lebih lamanya yang kita kenal dengan 'BHINEKA TUNGGAL IKA ".
maka dari itulah perlu adanya gerakan yang bertujuan untuk mensinergikan antara beberapa pihak yang antara lain, ulama, umaro' / pemerintah, rakyat, dan pelajar yang mengkedepankan kedewasaan berfikir ala " BHINEKA TUNGGAL IKA "
karna sejauh ini peran ulama begitu pentingnya dikalangan masyarakat terutama masyarakat pedesaan.
dan ini di butuhkan peran pemerintah sebagai pelindung untuk mengkaji dan merapatkan barisan dengan unsur kebangsaan yang berkeindonesiaan ini.
berbagai budaya, adat, serta seni haruslah terkontrol dan di tangani secara serius dengan melibatkan orang-orang yang membidanginya, bukan sepenuhnya di perankan oleh pemerintah, karna semua elemen masyarakat sangat penting perananya.
semoga saja apa yang menjadi ketetapan para wali songo ini tetap terjaga rapai.
karna mereka mengukur kadar ukuran kaum dengan tidak gampang main coret begitu saja semisal budaya, seni, adat begitu saja tanpa mengurangi nilai-nilai masing-masing agama yang di peluk oleh sekian bamyak aneka warna bangsa ini.
terutama dalam urusan agama islam, para wali songo juga lebih mengkedepankan ahlakul karimah dengan gaya khas merakyat.
sehingga agama pun di ukur oleh mereka sesuai kadarnya, yang memilih mengikuti faham ahlu sunnah wal jama'ah dengan mengikuti salah satu dari 4 madzhab DALAM urusan fiqh, Syafi'iyyah. Maalikiyyah, Hanafiyyah, Hanabilah.
sehingga
dengan bijak mereka memilahkan masyarakat kita untuk mengikuti madzhab Syafi'iyyah, karna madzhab ini yang mengadopsi pemikiran tekstualis dan kontekstualis, aliran yang menggabungkan metode Imam Malik RA sebagai gurunya yang mengkedepankan alur pemikiran tekstualis, serta beliau ( imam Syafi'i ) juga menggunakan alur pemikiran tekstualis yang juga diperankan oleh muridnya yang juga pendi Madzhab Hanaabilah yakni imam Ahmad ibn Khanbal.
serta dalam urusan thoriqah mengikuti alur Syeh Abdul qadir Al-Jiylaniy, Syeh junaidi Al-Baghdadiy, Imam Abul Hasan Asy-Syadiliy, dan dalam masalah tashawwuf mengikuti alur Imam Abu Khamid Al-Ghozaliy, dalam urusan teologi / ketauhidan mengikuti alur Imam Al-'Asy'ariy pendiri Madzhab 'Asya'iroh dan Imam Al-Maturidliy pendiri Madzhab Matuuridliyyah.
sehingga dalam agama islam pun para wali tidak pernah memaksakan kepada kaumnya untuk memeluk islam.
semoga ini dapat bermanfaat, mungkin akan saya sampaikan dilain waktu jika ada waktu.
sekian.
by : Rooney El-Battaty

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar